7 Penyebab Kesalahan Dalam Memilih Pasangan Hidup

Dengan banyaknya perkembangan pengetahuan tentang bagaimana mempersiapkan pernikahan, penelitian juga membuktikan bahwa saat ini kemungkinan suatu pernikahan akan sukses atau gagal dapat diperkirakan sebelum hari pernikahan dengan kemungkinan sebesar 81%. Dari penelitian ini dan dari pengalaman saya sebagai konselor bimbingan pra-nikah, saya menyimpulkan 7 hal yang memungkinkan terjadinya kesalahan dalam memilih orang untuk dijadikan pasangan seumur hidup anda:  Keputusan untuk menikah dibuat terlalu cepat Jika ada sesuatu yang paling mengejutkan saya, itu adalah ketika ada 2 orang yang mengatakan bahwa mereka telah saling mengenal selama beberapa bulan, dan sekarang mereka siap untuk menikah. Saya ingin mengatakan, “Apa? Apakah anda tahu apa artinya “sampai seumur hidup anda”? Itu berarti ribuan kali makan pagi bersama, melalui semua jenis krisis keuangan bersama, menghadapi sakit fisik dan depresi bersama, menghadapi kekecewaan besar bersama, mungkin bahkan melihat satu sama lain bertambah tua dan kehilangan kontrol fisik. Dan anda pikir anda siap untuk membuat keputusan seperti ini hanya setelah beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa bulan?” Tentu saja, biasanya saya bisa menenangkan diri saya lebih dahulu. Saat sebuah pasangan siap untuk memutuskan akan menikah setelah hanya beberapa minggu atau beberapa bulan pacaran, saya mengasumsikan keputusan mereka lebih didasarkan pada fantasi daripada realita. Ini adalah sebuah indikasi bagi saya bahwa tanggung jawab dari pernikahan telah dianggap sepele, dan bahwa kedewasaan yang dibutuhkan untuk kesuksesan pernikahan jangka panjang masih belum dikembangkan. Prospek dari suatu pernikahan harus dapat kita lihat dari berbagai sisi, kita analisa dari saat-saat senang dan saat-saat buruk. Saya tidak bermaksud menjadi tidak realistis, tapi saya yakin bahwa jika pasangan mengambil waktu sekitar 2 atau 3 tahun untuk mempertimbangkan kualitas dari hubungan mereka, mereka mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk membuat keputusan yang bijaksana dan dapat dipertanggungjawabk an. Untuk keputusan yang menyangkut perubahan hidup ini, anda perlu bersabar dalam mengumpulkan dan mempertimbangkan semua data. Ambil waktu anda, ini lebih mudah daripada anda harus hidup selama bertahun-tahun dalam hubungan yang menyakitkan dan harapan-harapan yang tidak terpenuhi.  Keputusan menikah dibuat pada usia yang terlalu muda Saat 2 orang yang berusia di bawah 20 tahun menghampiri saya dan mengungkapkan rencana mereka untuk menikah, saya langsung membaca tanda bahaya. Para peneliti sosial menyatakan bahwa orang-orang yang menikah pada usia muda jarang dipersiapkan untuk memahami peranan mereka dalam pernikahan. Orang-orang yang masih muda belum dapat memilih pasangan hidup dengan efektif karena mereka belum mengenal diri mereka sendiri dengan baik. Pembentukan identitas diri masih belum utuh pada orang-orang yang masih muda, karena mereka belum menemukan detail-detail keunikan mereka, belum menentukan tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhan mereka secara spesifik, belum belajar bagaimana hidup mandiri, dan mereka belum berada pada posisi yang tepat untuk mengetahui jenis orang seperti apa dan dengan siapa mereka dapat menjalin komitmen dan hubungan yang berarti untuk seumur hidup. Mereka masih membutuhkan lebih banyak pengalaman hidup. Lalu pada usia berapa seharusnya seseorang menikah? Ini bergantung pada banyak faktor, seperti tingkat kedewasaan, kemampuan untuk menghidupi diri sendiri, kemajuan dalam pendidikan, dan lainnya. Intinya, jika anda ingin menghilangkan salah satu penyebab kegagalan pernikahan, pertimbangkan dengan serius untuk menunggu sampai anda telah mengembangkan identitas dan tujuan-tujuan hidup anda secara pribadi. Dengan ini, anda akan dapat memilih pasangan berdasarkan “diri anda yang telah cukup matang”.  Salah satu atau kedua orang terlalu bernafsu untuk menikah Ada banyak alasan mengaap orang terlalu “bernafsu” untuk segera menikah. Kadang mereka khawatir hati pasangan mereka akan berubah. Kekuatiran ini membuat mereka semakin ingin bertindak cepat. Atau mereka mungkin telah lelah menghabiskan malam minggu sendirian dan mereka berpikir sekali menikah mereka tidak akan merasa kesepian lagi. Terlalu “bernafsu” untuk menikah biasanya dikaitkan dengan kegairahan yang kuat dan dalam tentang pernikahan. Tentu saja pernikahan itu menyenangkan, namun jika 2 orang menikah dengan dimotivasi oleh kegairahan yang berlebihan, mereka gagal untuk mengenali tanggung jawab yang juga besar dari pernikahan, dan mereka ingin melewati ujian dari waktu. Mereka begitu bergairah dan gagal untuk mempertimbangkan konsekuensi- konsekuensi jangka panjang dari keputusan mereka. Kegairahan yang berlebihan sangat mudah dideteksi, dan jelas merupakan salah satu penyebab dari kegagalan pernikahan. Keputusan seumur hidup seperti menikah membutuhkan pikiran dan pertimbangan yang jernih, tidak terburu-buru.  Salah satu atau keduanya memilih pasangan untuk menyenangkan orang lainnya Mengapa orang mau memilih pasangan hidup untuk menyenangkan orang lain? Sebagai seorang psikolog, jawaban atas soal itu mudah. Kebanyakan dari kita berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, dan beberapa dari kita mengorbankan seluruh identitas pribadi kita untuk membuat semua orang lainnya bahagia. Berkali-kali saya menjumpai pasangan yang salah satunya memilih pasangannya karena ingin menyenangkan orang tuanya atau orang penting lainnya. Itu tidak akan berhasil! Untuk membuat keputusan yang baik, anda harus membuatnya berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan tujuan-tujuan hidup dari diri anda sendiri, bukan orang lain. Apakah ini berarti anda seharusnya tidak mendengarkan apa yang orang-orang penting di sekitar anda katakan tentang pilihan anda? Tentu saja tidak. Keluarga dan teman-teman anda mengenal anda dengan baik, dan mereka ingin anda bahagia. Jadi sebaiknya anda mendengarkan saran mereka dan mempertimbangkan pendapat mereka. Namun terkadang orang-orang ingin anda membuat mereka bahagia. Meskipun mereka tidak mengenal anda sebaik anda mengenal diri anda sendiri, dan meskipun anda-lah yang akan hidup bersama dengan pasangan anda bertahun-tahun, mereka ingin anda mengijinkan mereka yang membuat keputusan. Saya sering mengatakan, “Jangan biarkan seorangpun memilih pasangan hidup anda dan jangan ijinkan diri anda untuk memilih pasangan hidup untuk memuaskan orang lain. Ini pernikahan anda, kesempatan sekali seumur hidup anda!” Saya sering menemukan bahwa pihak-pihak ini seringkali adalah orang tua. Mereka mempunyai pendapat, mungkin karena pengalaman hidup mereka, mereka berpikir bisa membuat keputusan yang lebih baik dibanding anda. Mereka bisa saja benar, namun mereka bisa juga salah. Apapun kasusnya, ini adalah keputusan anda, dan jika anda membiarkan orang lain memutuskan untuk anda, anda mengambil resiko tinggi mengalami sakit hati jangka panjang. Sebagai orang tua dari putri-putri saya, saya dan istri saya benar-benar ingin tahu tentang pilihan dan pertimbangan mereka dalam hal pasangan hidup. Jika ada hal-hal yang perlu didoakan oleh orang tua, mendoakan pasangan hidup anak-anak sudah seharusnya berada di urutan teratas, setiap anak membutuhkan arahan dan berkat dari orang tua. Namun berjam-jam yang saya habiskan untuk konseling mengajarkan saya satu hal penting: pengaruh orang tua -walau kadang tanpa sepatah katapun yang terucap- sangat kuat terhadap anak-anak mereka. Betapapun hati-hatinya seseorang, setiap anak punya kecenderungan kuat untuk memilih pasangan karena dorongan (dukungan) atau larangan orang tuanya. Jika orang tua pintar, mereka akan mengetahuinya pada saat keputusan harus diambil. Mereka akan memberikan pertimbangan- pertimbangan kepada anak mereka untuk membuat keputusan berdasarkan data-data yang ada, namun pilihan itu haruslah merupakan pilihan anak mereka. Jika orang tua berpikir anak mereka tidak mampu mempertimbangkan data yang ada karena belum cukup berkembang secara pibadi, atau karena mereka masih bermasalah dengan diri mereka sendiri, mereka dapat mendorong dia untuk mencari konseling sebelum menikah. Tapi saat mereka menentukan pilihan, itu haruslah merupakan pilihan dia yang bebas dan independen, yang dapat mereka jalani selama mereka hidup. Saya sangat mendorong anda untuk memperhatikan setiap pendapat yang anda terima sebelum anda menentukan pilihan. Pendapat orang lain adalah penting, pengajaran yang anda terima adalah penting, dan bacaan yang anda pelajari akan sangat membantu. Setelah semua itu, dengarkanlah suara hati anda sendiri. Tantangan terbesar dalam hidup anda adalah ketika anda berdiri di tengah-tengah semua pendapat, informasi, dan perasaan, lalu membuat keputusan yang bijaksana. Apapun yang akan anda lakukan, jangan kacaukan hidup anda dengan membuat suatu keputusan hanya karena anda tidak ingin menyakiti calon pasangan anda, atau karena anda takut teman anda berpikir yang negatif tentang anda, atau karena semua undangan sudah tersebar, atau bahkan karena seseorang mengatakan bahwa anda dan calon pasangan anda adalah pasangan yang cocok satu sama lain.  Area perkenalan yang terlalu sempit Kadang-kadang 2 orang datang pada saya dan menyatakan niat mereka untuk menikah, tapi cara mereka untuk saling mengenal satu sama lain terlalu sempit. Mereka belum berjalan bersama dalam melalui berbagai keadaan dan situasi, yang penting untuk benar-benar mengenal seseorang. Mereka belum benar-benar mengetahui apa yang disukai atau tidak disukai satu sama lain dalam kebanyakan area dalam hidup, mereka belum menghabiskan banyak waktu bersama dengan keluarga masing-masing, dan mereka belum melalui satu pun argumentasi atau konflik. Saya yakin anda mengerti maksud saya. Orang-orang yang sedang jatuh cinta biasanya tidak ingin diganggu dengan pembicaraan tentang masalah atau konflik. Mereka merasa “yakin” bahwa mereka sudah mendapatkan bukti yang cukup untuk memilih satu sama lain dengan benar. Tapi sesungguhnya, sempitnya pengalaman mereka dengan satu sama lain membuat keputusan mereka beresiko tinggi. Adalah penting untuk meningkatkan pengalaman anda bersama sebanyak mungkin, luangkan waktu bersama dengan calon pasangan anda dalam waktu-waktu dan berbagai kesempatan yang berbeda, saat stress atau santai, saat sedih atau senang. Lihatlah bagaimana dia bermain dengan anak-anak, melakukan tugas-tugas rumah, mengatur keuangan, dan hal lainnya. Semakin banyak pengalaman yang anda lalui bersama, semakin besar kesempatan anda untuk menghindari kejutan-kejutan yang tersembunyi.  Pasangan mempunyai harapan yang tidak realistis Seorang wanita datang kepada saya dan menceritakan tentang kegagalan pernikahannya, “Saya tidak mengira bahwa hubungan yang dimulai dengan penuh harapan dan cinta dapat berakhir salah. Dulu saya yakin bahwa kalau dia sudah melihat cinta itu sebenarnya bagaimana, maka segalanya akan menjadi baik-baik saja. Lalu dia akan berubah dan mencintai saya sama seperti saya mencintai dia. Dia sudah mempunyai semuanya dalam dirinya, dia hanya butuh dicintai untuk bisa mengeluarkan semua itu. Saya akan menjadi orang yang membuka dia, seorang wanita yang akan membuat hidupnya lebih baik…” Mungkin anda bisa melihat, sama seperti saya, adalah sikap yang naif jika kita berpikir bahwa kita bisa mengubah seseorang sendirian. Wanita ini menyadari bahwa harapan-harapannya memang tidak realistis. Wanita lain yang hanya bertahan 2 tahun dalam pernikahannya mengatakan, “Saya tidak pernah mengira akan ada masalah keuangan. Dia kelihatannya mempunyai banyak uang ketika kami pacaran. Saya hanya berasumsi bahwa tidak akan pernah ada masalah keuangan.”   Saya ingat satu kalimat dari buku terkenal The Road Less Travelled, “hidup itu sulit”. Dia benar tentang itu. Jika kita hanya berfokus pada sisi menyenangkan dari sebuah hubungan, kita mungkin akan terjebak dan berpikir bahwa cinta adalah jalan ke surga yang membawa kita keluar dari semua ketakutan dan keterbatasan kita, “cinta itu begitu mengagumkan. .. mari kita menikah… semuanya akan menjadi sangat indah…” Meskipun semua perasaan ini memang indah, namun celah terbesarnya adalah ketika kita membayangkan bahwa cinta itu sendiri bisa menyelesaikan masalah-masalah kita, menyediakan kenyamanan dan kesenangan yang tiada akhir, menyelamatkan kita dari menghadapi diri kita sendiri, ketakutan-ketakutan kita, kesendirian kita, sakit hati kita, atau bahkan kematian kita. Terlalu terikat pada hanya sisi yang menyenangkan saja dari cinta membuat kita harus menghadapi banyak shock dan kekecewaan ketika kita kembali ke “bumi” dan harus menghadapi tantangan-tantangan hidup yang nyata untuk mengusahakan sebuah hubungan agar berjalan dengan semestinya. Ketika sebuah pasangan memutuskan untuk menikah, mereka sebaiknya sudah waspada bahwa mereka akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang nyata, bahkan jika hal-hal berkembang dengan cara yang paling positif sekalipun. Kadang usaha-usaha untuk membuat suatu hubungan berhasil dapat membuat kebanyakan orang merasa stress. Jika sebuah pasangan tahu bahwa kadang ketegangan dan rasa sakit itu tidak terhindarkan, mereka akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk belajar menghadapi dan menangani semua itu dengan efektif. Kuncinya adalah mengetahui apa yang akan anda hadapi, sehingga anda tidak akan terkejut dan memalingkan diri dari satu sama lain. Harapan-harapan kita kebanyakan dibentuk dari apa yang kita alami pada masa kecil. Jika orang tua anda membiarkan anda melihat dan atau terlibat dalam semua sisi kehidupan mereka -ketidaksetujuan, pergumulan, kegembiraan, mempertimbangkan keputusan penting- anda mungkin mempunyai gambaran yang lebih realistis dari kehidupan pernikahan. Namun kadang-kadang orang tua, dengan niat yang baik (menurut mereka), berurusan dengan hal-hal yang sulit itu di belakang pintu, atau mungkin ditangani hanya antara mereka berdua, anak-anak mereka lalu mengembangkan pemikiran bahwa pernikahan itu relatif mudah. Kenyataannya adalah, pernikahan yang sukses itu membutuhkan kerja keras dan usaha. Anda akan mengalami banyak sisi dari rasa sakit, dan akan ada masalah-masalah yang harus dihadapi. Dan sebaik apapun kondisi pernikahan anda, akan selalu ada tantangan-tantangan pribadi untuk menguji diri anda. Saya telah melihat banyak pernikahan berakhir karena banyak pasangan yang mengharapkan kehidupan mereka akan diisi dengan romantisme, jalan-jalan di pantai, dan bersenang-senang. Semua itu bukan realita.  Salah satu atau keduanya mungkin mempunyai masalah kepribadian atau masalah perilaku yang signifikan Jika ada beberapa hal dari kepribadian atau perilaku calon pasangan yang masih anda pertanyakan -seperti cemburu, emosional, temperamental, tidak bertanggungjawab, tidak jujur, kecanduan, masalah integritas seksual, atau keras kepala-  bertanyalah pada diri anda apakah anda mau menghabiskan sisa hidup anda dengan masalah-masalah itu. Hal-hal seperti ini jarang menghilang ketika anda menikah. Inilah sebabnya saya sangat prihatin ketika sebuah pasangan tetap memutuskan untuk menikah meskipun masih ada kecacatan signifikan yang belum dibereskan. Sebagian besar masalah di atas saya sebut sebagai ciri kepribadian, yang berarti sikap atau reaksi yang terjadi berulang kali dalam berbagai situasi yang berbeda, bukan hanya sekali atau 2 kali selama periode waktu yang lama. Jika calon pasangan anda dalam keadaan “bad mood” 2 atau 3 bulan lalu, itu bukan masalah besar. Tapi jika “mood”-nya sering berfluktuasi di minggu yang sama, dan jika sudah terlalu banyak minggu-minggu seperti itu, anda sedang menghadapi salah satu ciri kepribadian. Ciri-ciri kepribadian itu mungkin dimulai dari sebuah strategi untuk menghadapi sebagian peristiwa dalam hidup. Berbohong contohnya, calon pasangan anda menemukan dirinya berada dalam situasi yang sulit pada masa lalunya. Jia dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan terlihat buruk atau kehilangan sesuatu yang berharga, jadi dia berbohong, dan pada saat dia berbohong, kegelisahannya akan rasa sakit yang dia takutkan berkurang. Ini membuat dia mengulang untuk berbohong di kesempatan lain saat dia menghadapi dilema pada situasi yang serupa. Saat perilaku-perilaku semacam ini dilakukan berulang kali, mereka menjadi kebiasaan. Jika seseorang yang anda sayangi sering atau terus menerus tidak dapat diandalkan, atau tidak jujur, atau bersikap menyakiti anda, akan sangat sulit bagi anda untuk membangun rasa percaya kepadanya, atau nyaman bersama pasangan anda. Dan jika anda tidak dapat mempercayai atau nyaman bersama pasangan anda, waspdalah. Dalam keadaan apapun, jangan menikah sebelum masalah-masalah kepribadian yang signifikan telah diketahui dan dibereskan. Karena jika tidak, ada potensi yang berbahaya dalam pernikahan anda nantinya. Jika anda bertanya apakah ketujuh hal di atas adalah mutlak, saya bisa mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa beberapa orang yang menikah setelah berhubungan hanya beberapa bulan dan pernikahan mereka sukses. Saya tidak akan menyangkalnya karena saya tahu itu benar-benar terjadi. Tapi itu adalah perkecualian yang jelas. Kemungkinan yang lain pun dapat terjadi pada ke 6 hal lainnya. Namun jika anda mengikuti prinsip-prinsip di atas, paling tidak anda akan terhindar dari penyebab-penyebab utama salah memilih pasangan hidup. Lalu anda akan bebas untuk berpikir lebih positif tentang bagaimana anda akan membuat pernikahan anda berhasil melalui perencanaan dan persiapan yang matang. Kepuasan karena memilih pasangan hidup dengan bijaksana adalah tidak ternilai, dan usaha keras anda akan terbayar. Saya tidak dapat menghitung berapa banyak kehidupan yang akan dipengaruhi oleh sebuah pernikahan. Contohnya ayah dan ibu saya, sampai saat ini, kami semua (ada 45 orang, kami anak-anak mereka dan juga cucu-cucu mereka) bisa melihat bahwa pernikahan mereka telah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan kami dengan berbagai cara. Saya sangat ingin orang-orang dapat meningkatkan kesempatan mereka untuk menjadi bahagia dan menyediakan lingkungan yang sehat bagi orang-orang yang mereka sayangi jika mereka mengetahui pentingnya untuk memperhatikan ke tujuh hal ini. hahaha…. ini pelajaran dan panduan aja buat temen – temen yang uda pengen kawin or uda terlanjur kawin……🙂 

2 Responses so far

  1. 1

    annie said,

    aku korbankan cintaku dan meninggalkannya demi orang tua yang menuntut balas baktinya dariku hiks…
    tragis memamg tapi lebih tragis lagi orang yang kucintai blm siap menikahiku.aku berharap bila dia menikahiku dia bebas membawaku kemana saja,s4 terpikir olehku lari dengannya tapi,…tolong aku donk kasih aku saran!!please

  2. 2

    Vitri said,

    Thak’ss A Lot….bener2 bermanfaat soalnya gw lagi bener2 bingung
    milih diantara 2 pilihan, bingung banget harus milih yg mana???
    tp setelah baca articlenya jadi ada gambaran,langkah apa yg harus gw ambil
    thank’s beraaaattttttttttttttttttt
    Semoga aja pilihan yg gw ambil bener2 tepat untuk masa depan gw
    dan orang2 yg gw sayangi
    AMIEEEEEENNNNNNNnn


Comment RSS

Comments are closed.

%d bloggers like this: